Dunia logistik internasional memasuki September 2026 dengan kondisi freight market yang masih cukup dinamis. Setelah beberapa bulan penuh tekanan akibat gangguan geopolitik, perubahan pola permintaan, serta kenaikan biaya operasional, tarif pengiriman laut di sejumlah rute Asia kembali mengalami pergerakan yang perlu diperhatikan oleh importir.
Salah satu indikator terbaru menunjukkan Drewry’s Intra-Asia Container Index naik 10% menjadi sekitar US$1.199 per kontainer 40 kaki, level tertinggi dalam tiga tahun. Kenaikan ini dipengaruhi oleh kombinasi gangguan cuaca, ketegangan geopolitik, dan keterbatasan kapasitas di beberapa titik penting dalam jaringan pelayaran Asia.
Mengapa freight rate kembali bergerak?
Freight rate tidak hanya ditentukan oleh jarak antara negara asal dan tujuan. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi harga, seperti:
-
Ketersediaan kapal dan kontainer
-
Volume permintaan pengiriman
- Kondisi pelabuhan
- Harga bahan bakar
- Cuaca dan gangguan operasional
- Kondisi geopolitik dan jalur pelayaran
Situasi di Timur Tengah juga masih menjadi salah satu faktor yang diperhatikan industri. Pada 1 September 2026, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih berada pada level rendah, dengan hanya lima kapal yang tercatat melintas pada hari sebelumnya berdasarkan data pelacakan awal Kepler.
Gangguan di jalur strategis seperti ini dapat memberikan efek berantai terhadap biaya bahan bakar, jadwal kapal, kapasitas, hingga keputusan carrier dalam menentukan rute.
Apa artinya bagi importir Indonesia?
Bagi importir, perubahan freight rate berarti harga pengiriman tidak sebaiknya menjadi satu-satunya pertimbangan ketika menentukan jadwal shipment.
Menunggu terlalu lama dengan harapan tarif turun memang bisa terlihat menguntungkan. Namun, jika permintaan meningkat atau kapasitas kapal semakin terbatas, biaya justru dapat bergerak naik.
Sebaliknya, melakukan pengiriman tanpa memperhitungkan kebutuhan stok juga dapat meningkatkan biaya penyimpanan dan membuat cash flow kurang efisien.
Karena itu, importir perlu melihat total landed cost, bukan hanya harga freight.
Strategi importir menghadapi freight market yang dinamis
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Rencanakan shipment lebih awal
Hindari melakukan booking terlalu dekat dengan kebutuhan barang, terutama untuk barang yang memiliki deadline produksi atau penjualan.
- Bandingkan opsi pengiriman
Sea freight dan air freight memiliki karakteristik berbeda. Pemilihannya harus disesuaikan dengan volume, urgensi, dan nilai barang.
- Perhitungkan total biaya
Freight hanyalah salah satu komponen. Biaya handling, customs clearance, storage, trucking, hingga last-mile delivery juga perlu diperhitungkan.
- Pantau kondisi pasar secara berkala
Perubahan kecil pada kapasitas atau permintaan dapat berdampak pada harga dan jadwal pengiriman.
Importir perlu lebih adaptif
Kondisi freight market 2026 menunjukkan bahwa biaya logistik semakin sulit dipandang sebagai angka yang statis. Bagi importir, kemampuan membaca kondisi pasar dan memilih strategi pengiriman yang tepat dapat membantu menjaga biaya sekaligus mengurangi risiko keterlambatan.
Dengan perencanaan logistik yang tepat, perubahan freight market tidak harus menjadi hambatan bagi bisnis.


